Satu orang serakah di kota ini kukenal baik, karena ada hubungan keluarga denganku (dari pernikahan, bukan hubungan genetik. Ia sama sekali tak rendah PD. Tujuan hidupnya adalah untuk semakin kaya tanpa perduli (ia sikat) akan manusia lain atau saingan usahanya. Yang kulihat napa ia jadi begitu, karena ia tak mau kismin (lagi) dan dengan menimbun harta itu, 7 turunannya tak akan miskin. Kulihat itu juga terjadi di keluarga Cing Eyang, jadi latar belakang kemiskinan dan takut akan miskin lagi bikin orang jadi serakah, bukan karena low self-esteem.
Kalau kita belajar manajemen dengan dasar kapitalisme, tentu salah satu strategi bisnis adalah bagaimana memenangkan persaingan, mendapatkan keuntungan kapital sebesar-besarnya, melakukan konglomerasi dan mencapai kesejahteraan yang maksimal. Nampaknya, hal ini mengajarkan orang untuk menjadi serakah dalam artian menjadi kaya raya. Mengapa harus mengabaikan peluang? Selain itu, pertempuran dan persaingan ibarat hukum rimba. Siapa kuat dia yang menang. Tentu saja, akhirnya akan ada kontrol dalam bentuk etika bisnis dan peraturan atau undang-undang yang mencegah orang untuk serakah. Misalnya, ada undang-undang anti monopoli. Ambil satu contoh,
apakah kita bisa menyebut Bill Gates sebagai seorang yang serakah? Di satu sisi, orang akan memandang Bill Gates sebagai orang yang sukses, tapi bagi orang yang pernah dirugikan olehnya, boleh jadi menganggap Gates adalah orang yang serakah. Nah, yang jadi pertanyaan, apakah Bill Gates orang yang kurang percaya diri? Kalau kita pelajari para pengusaha "serakah" ini, seringkali "menebus dosa" dengan melakukan derma (tiba-tiba menjadi seorang filantropis). Saya membaca, nasihat Mahatma Gandhi tentang 7 dosa sosial ini sangat baik...
- Politics without principle (Politik tanpa prinsip)
- Wealth without work (Kekayaan tanpa kerja)
- Pleasure without conscience (Kenikmatan tanpa nurani)
- Knowledge without character (Pengetahuan tanpa karakter)
- Commerce without morality (Bisnis tanpa moralitas)
- Science without humanity (Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan)
- Worship without sacrifice (ibadah tanpa pengorbanan)
Nampaknya, kalau mengabaikan nasihat Gandhi di atas, orang bisa "terjerumus"
ke dalam keserakahan.
Tuesday, 14 July 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment