Tuesday, 14 July 2009

Serakah... nature atau nurture?

>Dalam test permen kapas (marsmallow) sebenarnya anak yang tahan hati, menunggu demi dapet hasil dobel, bisa dibilang lebih serakah (doi gak puas cuma dapet segitu dan pengen lebih), ataukah anak yg gak tahan godaan, thus gak dapet bonus, bisa dibilang serakah, serakahnya dimana?<

Para periset sama sekali tidak memberikan judul anak serakah kepada mereka yang bisa tahan sabar atau delayed gratification. Kepada mereka yang langsung habek sang gulali, juga tidak diberikan cap atau label mereka kaum greedy. Hanya di dalam longitudinal study yang memantau perkembangan anak-anak kedua kelompok itu, yang tahan napsu ketika sudah besar menjadi "orang" seperti Santo di milis Psiko.

>Mengapa orang serakah (tidak pernah puas) karena dalam kehidupan modern ini sifat serakah mendapat reward berupa pujian dan hasil nyata. Dengerin aja para motivator ato apalah namanya pada berteriak agar kita tidak boleh cepat puas... Orang yg puas dengan kondisi apa adanya dianggap malas, kurang smart, gak semangat, dll. Pokoknya ga okey, dijaman modern ini yg okey yah yg kerja terus cari duit...Kalo bisa 24x7, kayak server yg katanya tanpa downtime.<

Tergantung konteks dan seberapa serakahnya tapi keserakahan tidak lah oke di
dalam semua budaya, malah oleh sementara agama, dijadikan salah satu dosa utama.

>Antara nature dan nurture, saya kira nurture lebih berpengaruh di sini, ditambah kenyataan bahwa nature (ekspresi gen) masih bisa dipengaruhi lingkungan, dalam arti ekspresi gen bisa 'disetel' on/off tergantung pada lingkungan.<

Belum ada riset mendalam mengenai berapa besar andil nature, berepa nurture di
dalam keserakahan di dunia psiko. Itu sebabnya Cak Nur mempertanyakannya. Supaya
aman memang teori Be Eddy, 50-50 bisa dipakai

No comments:

Post a Comment